Rabu, 18 November 2015

DESA GONDANGMANIS

Gondang Manis adalah salah satu desa di kecamatan Bae yang memiliki sejarah desa yang patut disimak. Di sana ada seorang bangsawan bernama Raden Mas Datuk Singo Proyo (Kyai Haji Citro Kusumo) yang membabat hutan di areal tersebut hingga menjadi sebuah desa dengan seluruh keindahannya. Beliau, lahir di Mataram pada hari Senin Pahing 11 Shofar 1038 H / 21 Maret 1716 M dengan nama Raden Onto Kusumo. Sebagai keturunan keempat dari Pangeran Samber Nyowo (Sri Mangkunegara I) yang sepanjang hidupnya berjuang melawan penjajah, maka Raden Onto Kusumo sejak kecil mula juga tidak senang akan keberadaan penjajah di negeri ini.

Masa remajanya dilalui dengan kehidupan kehidupan bersahaja bersama guru-gurunya dan tinggal di padepokan yang jauh dari kota. Setelah dewasa beliau kembali di tengah-tengah keluarga dengan membawa segudang ilmu agama, dan ilmu pengetahuan lain. Beliau kemudian menjadi punggawa di istana Mangkunegaran. Selang beberapa tahun, karirnya menanjak sehingga dianugerahi pangkat tumenggung yang bertugas menjalin hubungan dengan kerajaan/negara sahabat Yogyakarta. Karena tugas tersebut, beliau banyak melakukan kunjungan kenegaraan hingga sampai di daerah Kesultanan Praya di Sumbawa. Sekembalinya dari tugas yang dianggap berhasil itu, beliau bergelar Raden Mas Singo Proyo.

Beliau juga pernah mengadakan suatu kunjungan ke Kesultanan Palembang. Untuk melancarkan tugasnya, beliau tinggal di Palembang selama beberapa waktu. Selama itu pula Raden Mas Singo Proyo semakin akrab dengan keluarga Kesultanan Palembang, termasuk dengan adik sang sultan yang bernama Halimah. Lambat laun terjalinlah hubungan diantara keduanya. Akhirnya Raden Mas Singo Proyo menikah dengan Halimah dan beliau mendapat gelar Datuk karena menikah dengan wanita bangsawan Kesultanan Palembang. Beliau lantas kembali ke Mataram bersama isterinya.

Dari pernikahan tersebut, lahirlah Raden Onto Wongso yang kelak menjabat sebagai Mantri Petinggi bergelar Raden Mas Datuk Singodipuro. Ketika Raden Onto Wongso berusia 4 tahun, Raden Mas Datuk Singo Proyo mendapat anugerah dari raja dengan menjadi bupati Jepara. Daerah Jepara sebagaimana diketahui, adalah daerah yang sering bergolak karena ulah penjajah. 2 tahun di sana, isteri Raden Mas Datuk Singo Proyo wafat dalam suatu perselisihan dengan penjajah. Awalnya, Halimah yang ketika itu berada di pasar membela rakyat pribumi yang mendapat perlakuan sewenang-wenang dari penjajah. Dengan berani beliau bersama beberapa pengawalnya melawan para penjajah. Akibatnya, gugurlah Halimah bersama para pengawalnya karena tidak seimbang dalam segi jumlah maupun persenjataan.

Sejak peristiwa itu, ketegangan demi ketegangan terjadi antara rakyat Jepara dengan penjajah yang berada di pelabuhan Jepara. Misalnya saja, jika ada masalah kecil seringkali menjadi besar dan menimbulkan pertempuran. Semakin hari rakyat Jepara semakin benci terhadap para penjajah. Dengan berbagai cara, mereka bertekad ingin segera mengusir para Belanda tersebut. Apalagi, ketika itu Belanda telah menguasai wilayah Mataram hingga ke pelosok-pelosok. Mereka tidak hanya menguasai perdagangan saja, namun juga politik, pemerintahan, dan pajak.
Keadaan bupati sendiri yang kala itu telah 2 tahun menduda dan belum memiliki isteri lagi, adalah hal yang tabu menurut adat Jawa kala itu. Banyak saran dari keluarga maupun pejabat yang lainnya agar Raden Mas Datuk Singo Proyo segera menikah lagi. Akhirnya, beliau menikah lagi dengan puteri seorang ulama’ bernama Kyai Haji Ali Mukmin Suryo Kusumo. Dari isteri kedua lahirlah 2 orang putera dan 1 orang puteri. Setelah itu Raden Mas Datuk Singo Proyo melaksanakan ibadah haji dan sekembalinya dari tanah suci, beliau bergelar Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo.
Dalam kurun waktu itu, hubungan antara rakyat pribumi dengan penjajah semakin buruk. Selama itu pula penjajah memaksa dengan cara kekerasan agar rakyat pribumi membayar pajak yang seharusnya disetorkan kepada kesultanan Mataram. Bahkan, pajak yang ditetapkan dinaikkan berkali lipat daripada yang seharusnya.
Akhirnya, gejolak rakyat Jepara mencapai puncak pada tanggal 16 Nopember 1768. Pasukan Jepara yang dipimpin bupati Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo menyerang dan mengepung benteng penjajah di Jepara. Pengepungan tersebut berlangsung sekitar 20 hari lamanya.
Dari kedua belah pihak, korban yang luka maupun meninggal dunia juga tidak sedikit. Memasuki minggu ke empat, benteng dapat direbut oleh rakyat Jepara. Meski begitu, rakyat Jepara sadar bahwa hal itu bukan merupakan akhir perjuangan mereka. Perkiraan mereka benar adanya. Setelah 3 minggu benteng dapat dikuasai rakyat Jepara, datanglah kabar dari telik sandi bahwa tentara bantuan Belanda telah mendekati perairan Jepara dengan ratusan kapal perang serta persenjataan yang lengkap termasuk meriam-meriam besar.
Menghadapi serangan tersebut, rakyat Jepara telah siap dengan tekad “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”. Mereka menghadapinya dengan armada laut yang kuat pula, akan tetapi karena tidak seimbang dalam jumlah kekuatan dan persenjataan, mereka akhirnya dapat dipukul mundur. Banyak kapal pasukan Jepara yang tenggelam karena tembakan meriam, sehingga pasukan yang masih hidup segera berlari menyelamatkan diri.
Selang beberapa waktu, pasukan penjajah kembali mengepung kota Jepara dengan menghujani tembakan meriam sehinga kota tersebut porak poranda. Banyaknya korban yang berjatuhan membuat rakyat Jepara mengadakan perlawanan dengan sekuat tenaga. Namun karena memang tidak seimbang dalam kekuatan dan senjata, hampir setiap kubu pertahanan dapat dikalahkan. Melihat hal itu, sebagai bupati Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo dengan berat hati memerintahkan agar sisa-sisa prajurit Jepara mundur dan kembali ke daerah masing-masing untuk menyelamatkan diri.
Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo bersama keluarga dengan dikawal beberapa prajurit kemudian menyingkir ke arah timur menuju daerah Kudus dan akhirnya menetap di sebuah hutan yang banyak ditumbuhi pohon Gondang dan pohon jambu monyet (mete).

Sesampainya di sana, Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo bersama keluarga dan para pengawal disambut oleh pasangan suami isteri yang sudah lanjut usia, bernama Aki Buyut Juwiring dan Nini Buyut Leginah. Merekalah yang menghuni hutan Gondang ini sebelum kedatangan rombongan dari Jepara tersebut. Menurutpandangan batin Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo, mereka bukanlah orang sembarangan. Hal tersebut nampak pada wujud lahiriahnya yang sederhana.

Dugaan tersebut benar adanya, karena Aki Buyut Juwiring dan Nini Buyut Leginah menjalani kehidupan sebagaimana kehidupan kaum sufi yang setiap saat tidak pernha berpaling dari Allah SWT.

Dalam keadaan yang masih berupa hutan tersebut, para pengawal Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo mulai membuka hutan dengan rencana dan pengembangan di masa mendatang agar menjadi desa yang teratur dan tertata rapi. Dari proses pembuatan jalan utama, jalan kampung, tata rumah tempat tinggal, pemimpin, perangkatnya, rumah penduduk, tempat ibadah, hingga penentuan tempat untuk berladang, dilakukan secara seksama. Sejak saat itu, orang-orang desa mulai berangan-angan tentang nama desa tersebut nantinya.

Ketika Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo beristirahat di sela-sela pekerjaanya membangun desa, beliau berkonsultasi dengan Ki Buyut Juwiring tentang nama desa kelak. Kemudian oleh Ki Buyut Juwiring dan Nini Buyut Leginah, Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo bersama para penduduk diajak ke satu tempat mata air. Kedua buyut tersebut mempersilakan para penduduk untuk mengambil dan memakan buah pohon Gondang yang tumbuh di dekat mata air itu.

Ada keanehan di sana. Ternyata buah pohon Gondang tersebut berasa manis, tidak seperti buah pohon Gondang pada umumnya. Mata air yang ditumbuhi pohon Gondang yang langka tersebut berada di sebelah barat jalan utama desa yang baru (diperkirakan berada belakang rumah Mbah Kyai Ali Suryo Kusumo). Setelah peristiwa itu, Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo mengambil keputusan untuk menamai desa itu dengan nama “Gondang Legi” (Gondangmanis). Nama Gondang Legi disematkan untuk menghormati Nini Buyut Leginah sebagai orang yang berusia paling tua (sepuh) diantara mereka, sekaligus beliaulah yang menemukan pohon Gondang yang berbuat manis tersebut.

Pada hari itu itu juga Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo memberi penghargaan sekaligus kehormatan kepada Ki Buyut Juwiring dengan memberinya sebutan baru yaitu Kyai Suryo Kusumo. Nama yang mirip dengan mertua sekaligus guru Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo. Raden Mas Datuk Kyai Haji Citro Kusumo Singo Proyo juga mengangkat kedua buyut tersebut sebagai sesepuh, dan guru spiritual.




Menara Kudus

Ketika wafat, kedua buyut tersebut dimakamkan di sebuah tanah yang agak tinggi di atas tebing sungai persis di tengah-tengah pemakaman tersebut.
Karena perjalanan waktu, masyarakat lebih akrab dengan nama Gondangmanis daripada Gondang Legi. Daerah ini sendiri mendapat anugrah dari raja menjadi tanah perdikan (terbebas dari pajak) selama dua periode keturunan, setelah Raden Mas Datuk Singo Proyo melapor kepada Istana Mangkunegaran, Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta bahwa beliau dan keluarga telah pindah dari Jepara ke Kudus. Pelaporan tersebut tentu saja terjadi setelah bertahun-tahun Raden Mas Datuk Singo Proyo menetap di Gondangmanis dan terhindar dari kejaran penjajah.
Selain itu, putera-putera Raden Mas Datuk Singo Proyo juga mendapat kedudukan sebagai mantra petinggi setingkat camat.
1.Raden Mas Datuk Singo Dipuro menjadi mantri petinggi Bae di Gondangmanis
2.Raden Mas Kyai Singo Negoro menjadi mantri petinggi di Jekulo
3.Raden Mas Kyai Tohjoyo Singo Dilongo menjadi mantri Dawe di Piji
4.Raden Ayu Sariti menjadi isteri mantri petinggi Kudus di Pejagan
Raden Mas Datuk Singo Proyo termasuk orang alim yang dikaruniai umur panjang, sekitar satu abad lebih. Ketika wafat beliau dimakamkan di sebelah barat makam Kyai dan Nyai Buyut Suryo Kusumo agak ke selatan sedikit. Komplek pemakaman ini dulunya adalah makam keluarga, namun sekarang sudah menjadi pemakaman umum Islam dengan nama “Sedo Luhur”.
Menurut penuturan sesepuh keturunan Raden Mas Datuk Singo Proyo, dulu setiap ada pergolakan yang disebabkan oleh penjajah para keturunan Raden Mas Datuk Singo Proyo selalu memiliki andil yang besar untuk melawannya. Apalagi keturunan Pangeran Samber Nyowo ini memang sangat benci terhadap penjajah, sehingga penjajah sendiri selalu mengawasi gerak gerik keturunan Pangeran Samber Nyowo, dimanapun berada, termasuk Raden Mas Datuk Singo Proyo dan keturunannya.
Pada tahun 1825-1830 ketika pecah perang Diponegoro (perang Kraman) yang mendapat dukungan penuh dari masyarakat Jawa, Belanda kewalahan menghadapinya. Keturunan Raden Mas Datuk Singo Proyo di Gondangmanis juga ikut serta dalam perang tersebut, berupa mengirimkan pasukan yang direkrut dan dilatih di pondok pesantren yang didirikan Syaikh Panembahan Nurul Yaqin Al-Hafidz. Beliau adalah keturunan Sunan Kalijaga. Ketika terjadi perang tersebut, pondok itu diasuh oleh generasi keempat Syaikh Panembahan Nurul Yaqin Al-Hafidz, yang juga keturunan dari Raden Mas Datuk Singo Proyo bernama Raden Mas Kyai Karjin.
Salah satu pabrik rokok ter-besar di Indonesia 
yang terletak di Ds. Gondangmanus 
"Djarum Oasis Kretek Factory"

Perang ini menghabiskan sebagian besar kas negara Belanda, juga mengorbankan nyawa yang tidak sedikit kala itu. Karena kekecewaan Belanda, mereka pun melakukan tipu daya kotor berupa penangkapan Pangeran Diponegoro yang semula pura-pura diajak berunding. Penangkapan itu berakibat fatal terhadap pejuang yang berada di daerah-daerah. Mereka diburu, ditangkap, dan dieksekusi. Pondok yang menjadi tempat perekrutan pejuang juga dibakar dan dibumi hanguskan, termasuk dieksekusinya para santri. Sehingga musnahlah pondok yang pernah besar dan terkenal itu.

Demikian sobat, sedikit cerita tentang desa saya :D
Semoga bermanfaat dan menambah Ilmu sobat.Terima kasih :)

Jumat, 18 September 2015

pahlawan

Biografi WR Soepratman

Wr Supratman
Lahir dan Masa Kecil

WR Soepratman atau Wage Rudolf Soepratman dilahirkan pada tanggal 9 Maret 1903 tepatnya hari Senin Wage, di Jatinegara Jakarta. Tapi ada pula versi yang menyebutkan kelahirannya adalah tanggal 19 Maret. Ia adalah anak dari seorang sersan di Batalyon VIII yang bernama Senen. WR Soepratman adalah tujuh bersaudara. Salah satu kakaknya yang juga ikut menorehkan sejarah kesuksesan beliau adalah Roekijem yang bersuamikan seorang Belanda yang bernama Willem van Eldik.
Ketika WR Soepratman berumur 11 tahun, ia ikut kakaknya Roekitjem yang berdomisili di Makassar. WR Soepratman kemudian disekolahkan oleh kakak iparnya.

WR Soepratman kemudian mendalami bahasa Belanda selama 3 tahun yang kemudian berlanjut ke Normaalschool. Pada tahun 1923 yaitu ketika WR Soepratman telah menamatkan pendidikannya, ia lalu menjadi guru di Sekolah Angka 2. Pada tahun 1925, ijazah Klein Ambtenaar miliknya keluar.
Setelah keluar dari guru di Sekolah Angka 2, WR Soepratman kemudian bekerja di sebuah perusahaan dagang yang di Ujung Pandang. WR Soepratman kemudian beralih profesi menjadi wartawan surat kabar Kaoem Moeda di Bandung yang kemudian berpindah ke surat kabar Sin Poo di Jakarta. Pada saat itulah, WR Soepratman banyak bergaul dengan tokoh pergerakan nasional dan dirinya mulai tertarik dengan pergerakan nasional.
Dari hubungannya dengan tokoh-tokoh nasionalis tersebut, timbullah rasa benci terhadap Belanda yang kemudian ia tuliskan rasa tidak senang itu di sebuah buku karangannya yang berjudul Perawan Desa. Buku itu memberikan inspirasi banyak orang agar bersatu untuk melawan Belanda sehingga buku tersebut dilarang beredar oleh Belanda.
WR Soepratman kemudian berpindah tugas di kota Singkang, namun kemudian WR Soepratman mengundurkan diri dari wartawan dan pulang kembali ke rumah kakaknya, Roekitjem di Makassar.
Roekitjem adalah seorang yang ahli bermain musik biola dan sandiwara. Banyak hasil kreasinya baik itu musik biola atau sandiwara yang kemudian dipentaskan di mes militer. Keahlian sang kakak ini kemudian menarik minat WR Soepratman akan musik. Beliau akhirnya banyak belajar musik dari sang kakak dan membaca buku-buku musik milik kakaknya. Beliau juga diajari musik oleh kakak iparnya yaitu suami Roekitjem. WR Soepratman menunjukkan kemajuannya dalam bermain musik, beliau bahkan sudah bisa menggubah lagu. Suatu hari, WR Soepratman membaca suatu majalah yang bernama majalah Timbul yang isinya menantang para ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.
Mengetahui hal ini, WR Soepratman merasa tertantang untuk ikut menciptakan karya luhur tersebut. WR Soepratman lalu menggubah lagu yang kemudian pada 1924 terciptalah lagu “Indonesia Raya” karyanya.
Pada tahun 1928 bulan Oktober, diadakanlah Kongres Pemuda II dimana para tokoh pergerakan nasional dan perwakilan para pemuda seluruh Indonesia berkumpul untuk menyatukan visi mencapai Indonesia Merdeka. Di situ WR Soepratman juga hadir dan pertama kalinya beliau memperdengarkan lagu Indonesia Raya secara instrumental dengan biola (tanpa syair). Mengapa dikumandangkan lagu Indonesia Raya itu secara instrumental? Hal ini adalah usulan Soegondo Djojopuspito, salah satu tokoh pergerakan nasional, dengan alasan menjaga situasai politik dan kondisi saat itu. Banyak hadirin terpukau dengan lagu itu. Lagu tersebut telah berhasil mewakili keinginan rakyat Indonesia untuk segera merdeka dari Belanda.
Sesudah kongres itu, lagu Indonesia raya selalu diperdengarkan di kongres politik dan kongres nasional lainnya.
Belanda begitu khawatir akan efek persatuan yang ditimbulkan oleh lagu itu. Akhirnya Belanda selalu memburu WR Soepratman yang telah menciptakan lagu tersebut. Karena selalu menghindar dari kejaran polisi Belanda, W Soepratman akhirnya kelelahan dan jatuh sakit di Surbaya. WR Soepratman juga menciptakan lagu “Matahari Terbit” pada tahun 1938, ia kemudian menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu NIROM di jalan Embong Malang yang akhirnya membuatnya benar-benar ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan di penjara Kalisosok Surabaya.
Kesehatannya yang menurun drastis ditambah tekanan fisik serta psikis karena diburu oleh Belanda membuat WR Soepratman akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia pada hari Rabo Wage, tanggal 17 Agustus 1938. Beliau meninggal dunia tepatnya di Jl Mangga no 21 Surabaya dan dimakamkan secara Islam di Makam Umum Kapasan, Jl. Kenjeran Surabaya.
Makam WR Supratman
WR Soeprtman telah berjasa dalam membuat lagu yang bisa menyatukan rakyat Indonesia dan memberikan kobaran semangat demi terciptanya Indonesia Merdeka. Namun WR Sepratman sendiri tak sempat menghirup udara kemerdekaan karena keburu meninggal. Beliau tidak pernah menikah dan memiliki anak bahkan anak angkat sekalipun. Hidupnya diabdikan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui lagu.
Sebelum meninggal, WR Soepratman sempat menulis sebuah surat yang berisi seperti berikut : 

“Nasipkoe soedah begini. Inilah yang di soekai oleh Pemerintah Hindia Belanda. Biar saja meninggal, Indonesia pasti merdeka”.

Yang artinya : “Takdirku memang begini. Inilah yang diinginkan pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal, Indonesia pasti merdeka”.

Selain Indonesia Raya dan Matahari Terbit, WR Soepratman juga menciptakan lagu-lagu perjuangan lainnya. Berikut ini adalah lagu-lagu karya beliau :

Kebangsaan Indonesia Raya (1928),
Indonesia Ibuku (1928),
Bendera Kita Merah Putih (1929), 
Raden Ajeng Kartini (1929),
Lagu Mars Kepanduan Bangsa Indonesia (1930), 
Di Timoer Matahari (1931), 
Mars Parindra (1937), 
Mars Soerya Wirawan (1937), 
Matahari Terbit (1938), 
dan lagu Selamat Tinggal (1938) belum terselesaikan.
WR Soepratman juga mengarang buku-buku yang isinya mengajak untuk bersatu, seperti Perawan Desa, Darah Moeda dan Kaoem Panatik (1929).

Pada tanggal 26 Juni 1958 dikeluarkanlah Kepres No 44/1958 yang isinya menetapkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
Monumen Wr Supratman

Berikut ini adalah lirik lagu Indonesia Raya
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya